Rabu, 17 Maret 2010

Wadah

Dalam Allah membentuk anak-anakNya, Ia selalu menggunakan wadah atau sarana.. Sewaktu Yesus berada di muka bumi, salah satu wadah yang dijalaniNya adalah pekerjaan sebagai tukang kayu. Wadah yang dijalani Musa antara-lain menggembalakan kambing domba mertuanya, menjalani kehidupan di istana Firaun, menjalani kehidupan sebagai pemimpin bangsa Israel, bahkan perasaan hatinya sewaktu ia tidak boleh masuk ke tanah Kanaan itu pun merupakan wadah Allah membentuk Musa. Jadi pengertian wadah sangat luas, meliputi apa yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan (seperti suasana hati, perasaan kesepian, menjalani hidup yang terasing, perasaan gembira, perasaan senang, dlsb.).

 

Wadah yang dijalani anak-anak Tuhan berbeda-beda. Dan Tuhan menggunakan wadah ini untuk mengerjakan sesuatu dalam diri anak-anakNya. Dan APA YANG DIKERJAKAN TUHAN INILAH YANG PENTING, BUKAN WADAHNYA ITU SENDIRI.

WADAH YANG DIJALANI 2 ANAK TUHAN BISA SAJA SECARA LAHIRIAH TAMPAK SAMA, TAPI YANG TUHAN KERJAKAN MELALUI WADAH ITU MUNGKIN BERBEDA.

 

Dan apabila apa yang Tuhan kerjakan melalui suatu wadah selesai, dan wadah sudah menjalankan fungsinya dengan baik, maka Allah akan mengganti wadah tersebut. Jadi WADAH SIFATNYA SEMENTARA. Dan anak-anak Tuhan akan menjalani kehidupan dari satu wadah ke wadah lain.

Yang menjadi masalah adalah bahwa kita seringkali tidak mengetahui apa yang Allah tengah kerjakan dalam diri kita melalui wadah yang kita jalani.

SERINGKALI KITA KELIRU MENDUGA. Kita menyangka Tuhan tengah membentuk karakter A dalam diri kita, padahal Tuhan tengah membentuk karakter B. Dan masalah ini pula yang terjadi dalam hubungan persaudaraan kita di dalam Kristus.

 

Berikut adalah sekelumit contoh untuk bahan perenungan. Contoh yang tersaji jelas tidak lengkap. Dan APA YANG DITULIS DI SINI BUKANLAH UNTUK MENUNJUK SIAPAPUN. Ini hanyalah contoh yang tidak lengkap mengenai pandangan yang banyak dianut anak-anak Tuhan. Mudah2an dapat menjadi bahan pelajaran untuk kita agar dapat lebih mengasihi saudara kita.

 

Contoh 1:

 

A = Menikah, B = Tidak Menikah

 

A berkata kepada B, "Lihat saya dong, Saya telah mengalami dimensi kehidupan yang lebih tinggi. Menikah, punya anak, merasakan bagaimana menjadi bapa / ibu. Pembentukan seperti ini jelas kamu tidak alami, berarti saya lebih tinggi".

B berkata kepada A, "Siapa bilang. Saya khan seperti Yesus, sama-sama tidak menikah. Jadi jelas saya yang lebih tinggi dari kamu. Kamu ga pernah merasakan hidup sendiri seperti saya. Pembentukannya lebih berat loh. Saya harus menahan godaan. Jadi jelas pemrosesannya lebih tinggi. Dan rohani saya juga jelas lebih tinggi, seperti Yesus".

 

Menikah atau tidak menikah hanyalah wadah, yang penting adalah apa yang Allah kerjakan melalui wadah tersebut. Dan INI HANYA TUHAN YANG TAHU.

 

Contoh 2:

 

A = Kerja kantoran, B = Bekerja sebagai guru

 

A berkata kepada B, "Wah, kamu mah ketinggalan. Jadi guru khan ga ada tantangannya. Kamu ga ngerti manajemen, kamu ga ngerti cara menghargai orang. Lihat dong saya, saya belajar interpersonal skill. Saya belajar menyenangkan atasan, saya juga belajar menghargai bawahan. Wah pembentukan Tuhan model kaya begini ga akan kamu alami. Kamu guru, ngapain coba? Tuhan bentuk apa dalam diri kamu?"

B menjawab, "Justru itu. Kamu ga pernah mengalami pekerjaan yang monoton. Coba kamu jalani pekerjaan seperti aku. Kamu ga akan tahan deh. Berarti khan pembentukan Tuhan dalam diriku lebih berat. Jadi aku lebih sempurna dari kamu".

Dalam hal ini, A atau B bisa saja keliru menyangka apa yang Tuhan kerjakan dalam diri mereka. BUKANKAH APA YANG TIDAK PERNAH DILIHAT OLEH MATA, TIDAK PERNAH TERPIKIRKAN DALAM HATI, ITU YANG DISEDIAKAN ALLAH BAGI KITA?

 

Contoh 3:

 

A = Bekerja Di Perusahaan Multinasional Papan Atas, B = Bekerja Sebagai Wirausahawan

A berkata kepada B, "Tahu ga kamu, saya tuh baru kali ini belajar manajemen yang benar-benar profesional. Dalam segala aspek, saya dituntut bersikap dan bekerja profesional. Semua perilaku kita ada rapornya. Ada grade-nya. Semua dinilai. Jadi kita benar-benar berkembang di sini. Kemampuan kita menjalin hubungan dengan sesama mitra kerja, dengan atasan, dengan bawahan, dan dengan pihak ke-3 di luar perusahaan terasah dengan baik. Ga kaya kamu. Pembentukan Tuhan melalui wirausaha khan ga jelas, tidak terstruktur, tidak terpola. Tidak seperti aku."

B menjawab, "Wah kamu mah ga tahu beratnya jadi pengusaha. Kamu ga pernah sih ngerasain capenya memeras otak tiap malam sebelum tidur. Khan uang harus diputer terus. Kamu mah boro-boro mikirin muter uang. Kamu tahunya enak. Berangkat jam 6 pulang jam 9. Saya malah sering ga tidur. Pembentukan Tuhan dalam diri saya jelas lebih berkualitas. Saya pasti akan lebih cepat sempurnanya dari pada kamu".

Yang Allah kerjakan adalah penyatuan keberadaan kita dengan keberadaan Allah melalui wadah. JANGANLAH MEMANDANG WADAH, TAPI PANDANGLAH DIA YANG MENETAPKAN WADAH.

 

Contoh 4:

 

A = Bekerja, B = Pengangguran

 

A berkata kepada B, "Kami ini gimana toh? Tiap hari kerjanya tidur, ga belajar, ga cari duit? Wah kamu pasti ga akan sempurna deh. Soalnya Tuhan bentuk kamu dalam hal apa? Kamu mah cuma bergumul dengan diri kamu sendiri. Masa tiap hari bangun jam 12 siang? Jarang mandi, kumal, lusuh? Masa anak Tuhan kaya begitu?"

B menjawab, "Kamu bisanya cuma menyalahkan saya. Kamu ga tahu betapa beratnya penderitaan saya. Justru bergumul dengan diri sendiri itulah yang berat. Semua mainnya di pikiran. Kalau ga kuat, bisa gila. Coba kamu ngalami kaya aku, kamu pasti tidak tahan. Aku bisa menjalaninya, berarti aku lebih kuat dari kamu. Jadi aku lebih tinggi tingkat rohaninya dari kamu".

MANUSIA MELIHAT APA YANG KELIHATAN, TUHAN MELIHAT HATI.

 

Contoh 5:

 

A = Menjadi Imigran Di Luar Negeri, B = Tinggal Di Indonesia

 

A berkata kepada B, "Di sini enak loh. Budaya masyarakatnya lebih tinggi. Lebih tertib, teratur. Jauh dari suasana anarkis dan chaos. Demonya juga tertib, dan tulisan2nya juga bagus, ga kaya di sono. Orang di sini kalau demo ngerti apa yang didemokan. Bukan dibayar seperti di sana. Perbedaan strata gaji lebih teratur dan jelas. Memang di sana cari duit lebih gampang, tapi tidak dituntut budaya yang tinggi dan sikap profesionalisme. Di sini kita musti profesional dan berbudaya tinggi, kalo ga kita bisa jadi gelandangan. Hidup di sini lebih susah. Suku bunga kecil. Jadi kita benar-benar dituntut hidup dengan benar. Dan jika kita berhasil, ujung-ujungnya akan jauh lebih kaya dari kamu".

B menjawab, "Ah kamu khan cuma melarikan diri. Justru di Indonesia, yang kacau kaya gini, dimana-mana terjadi kerusuhan, tidak ada ketentraman, serba ga pasti. Suasana politik selalu memanas. Justru ini pembentukan Tuhan yang maha dahsyat. Kita dipaksa harus beriman. Kita harus menanggung banyak aniaya. Jadi pasti kita akan serupa dengan Kristus nantinya. Ga kaya kamu. Justru pembentukan Tuhan menjauh dari kamu tuh."

 

Contoh 6:

 

A = Pelayanan, B = Tidak Pelayanan

 

A berkata kepada B, "Pelayanan penting loh. Di sana kita bisa belajar saling mengasihi. Lagi pula kalau langkah kita keliru, ada yang menegur. Jadi lebih aman. Ga kaya kamu. Sendirian. Kalo salah, ga ada yang ngasih tahu, ga ada yang negur. Hati-hati loh, bisa sesat."

B menjawab, "Justru itu. Kamu tuh dapat wahyunya, pinjaman dari orang lain. Dapet denger dari kotbah orang lain. Dari nasihat saudara yang lain. Kalau saya sih asli, langsung dari Tuhan. Langsung dari sumbernya. Jadi ga mungkin keliru malah. Kamu yang bisa sesat, karena dengar dari si anu begini, dari yang lain begitu, dst. Terus hidup saya juga lebih jujur. Apa adanya. Ga kaya kamu, penuh basa-basi. Khan harus terlihat rohani di depan banyak orang."

Kiranya melalui tulisan ini, kita bisa disadarkan, bahwa apa yang kelihatan, apa yang tampak di mata, semua itu hanyalah sementara, dan Allah gunakan hanya untuk mengerjakan sesuatu di dalam diri kita. Apa yang Tuhan kerjakan itulah yang penting, yang TERJADI DI KEDALAMAN KEBERADAAN KITA.

Belajarlah melihat Kristus di dalam diri saudara-saudara kita, dan percayalah bahwa Allah tengah bekerja dalam diri kita semua DENGAN ADIL, SEBAB DIA ADALAH ADIL (HE IS JUST). Dia mengasihi kita semua. Jangan pandang wadah lagi, tetapi pandanglah Dia.


But they that wait upon the Lord shall renew their strength; they shall mount up with wings as eagles; they shall run, and not be weary; and they shall walk, and not faint. (Isaiah 40:31)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar